Siklus Konten

Jika kita bicara soal konten, lepaskanlah pikiran Anda dari masalah CMS (Content Management System), perangkat lunak, metodologi dan tetek bengek lainnya. Karena konten adalah konten atau sekumpulan informasi yang akan, sedang, sudah atau harus diolah.

Manajemen konten mencakup dua hal:

  1. Bagaimana mendapatkan konten yag sesuai dengan CMS yang ada;
  2. Bagaimana menetapkan strategi konten agar tercipta suatu sistem pengelolaan konten secara keseluruhan yang berkesinambungan di dalam suatu siklus konten yang tak terputus.

Siklus Konten meliputi 4 (empat) wilayah, yaitu:

  1. Analisa
  2. Pengumpulan
  3. Pengelolaan
  4. Publikasi (termasuk pemeliharaan dan analisa serta pengamatan untuk kebutuhan siklus berikutnya)

Empat hal di atas adalah siklus konten yang kita hadapi sehari-hari dengan atau tanpa CMS, tak perduli apakah konten tersebut akan digunakan atau akhirnya disimpan/dibuang.

Analisa

Sebuah konten harus memiliki strategi agar kita tahu untuk apa konten itu dibuat. Walaupun sebuah konten dikelola dengan baik dengan perangkat software yang canggih dan sistem pengawasan yang mutakhir, tanpa strategi sebuah konten tidak akan berguna untuk apa apa.

Hal-hal yang harus dianalisa dari sebuah konten sebelum kita menentukan strategi adalah: faktor kebutuhan akan konten, anggaran, penguasaan atas konten tersebut dan karakter dari konten itu sendiri.

Pengumpulan

Meliputi cara pengumpulan, apakah perlu diedit atau ditulis ulang, versi yang dibutuhkan dari segi gaya bahasa atau format penyampaian agar sesuai dengan target yang dituju serta pengelolaan metadata.

Pengelolaan

Untuk kemudahan pengelolaan suatu konten harus diidentifikasikan konfigurasi dari setiap komponen konten, model yang akan digunakan, struktur konten yang akan dibentuk serta bagaimana sistem repositori-nya (penyimpanan data).

Publikasi

Tahap terakhir yaitu tahap publikasi yang mencakup bagaimana konten itu akan disajikan agar mudah dicari, mudah dimengerti dan memiliki informasiyang menarik.

    Posted in Informasi | Tagged , , , , , , | Leave a comment

    One Stop Information Service for Indonesian SME

    Like in other countries, SME are the main players in the production, distribution and service sectors of the Indonesian economy. The proportion of SME is high in all sectors of the Indonesian economy. If all forms of enterprise, formal and informal, are included in all sectors, there were an estimated 40 million SME operating in Indonesia in 2000, employing approximately 73 million people. However, most of these enterprises are micro or cottage enterprises rather than SME in the strict sense of the word and the largest percentage are in the agricultural sector (PPTA & The Asia Foundation, 2005: 25). During the economic crisis many of these SME turned out to be more resilient than the highly indebted conglomerates.

    The Indonesian government has for a long time been concerned with the development of small- and medium-scale enterprises (SME). Variety programs were designed to promote the SME. However, despite the often-stated government concern about SME development, during the Soeharto era SME were actually not considered a vital part of the economy. Rather than viewing SME as important economic actors and an important part of a vibrant economy, many Indonesian policy-makers viewed them primarily as a social group, which needed assistance based on welfare or equity considerations rather than efficiency. As a result, many programs are in vain and insufficient. Programs maybe useful to those who know about them, but those who could use them the most are unaware of their existence. Many government policies failed to have the desired effect on society.

    Through many surveys and studies conducted by concerned academics and foreign experts from donor agencies, it has been recognized that the unavailability of sufficient financing, collateral, applied technology, managerial, skilled human resources, and access to commercial banks, markets, networks, and information are common problems of SME development in Indonesia. They all indicated that market-oriented, demand-and private sector-driven SME promotion programs will be more effective in developing viable SME, including raising their technological capabilities, than the ‘subsidized and protect’ SME programs motivated by ‘welfare’ or ‘equity’ considerations (ADBI: Policies for Private Sector Development in Indonesia, Thee Kian Wie).

    Inefficiencies in the licensing framework also create significant obstacles for growing firms. One of the factors contributing to the existence of bribes is the lack of information on licensing processes. It takes up to 97 days to register a business in Indonesia and the level of bribes paid by firms is about 40 percent of the taxes firms pay. The Asia Foundation survey shows that 75 percent of entrepreneurs do not have information on licensing in their regions and because of this, almost half of the use the services of brokers.

    The lack of success of the government SME programs can also be attributed to lack of coordination between the agencies in charge of SME programs (World Bank, 2001: 2.16). During the past decade there were at least two government agencies directly concerned with SME development, namely the Directorate-General of Small-Scale Industry, Department of Industry, and the Office of the State Minister for Cooperatives and Small Enterprises. Between these two major agencies concerned with SME development there was little communication to delineate a clear division of their respective responsibilities. There has also been a proliferation of other government subsidized credit schemes extended to small enterprises administered by various government agencies, many of which inevitably overlapped with one another.

    Currently, people who have interests in entrepreneurship and small medium enterprise can find information at several government and non-government websites. Each of the website give different kind of information. Some of the information may be adequate for people already engaged in small business. However, none of the above websites give comprehensive advice and guidance to small business operators throughout Indonesia, providing information, referral, business services, and programs tailored to the specific needs of the small business sector. This is not a good, efficient and effective roadmap for entrepreneurs to be. Especially when people have to go to so many different sources.

    Business research and development services to SME that are truly responsive to the real needs of the SME should preferably be provided by the private sector, complimented (but not dominated) by government agencies if necessary. Every country has a one-stop service dedicated to encourage small business development. In USA and Australia each state has one. It is time for Indonesia to have one too.

      Posted in Informasi | Tagged , , , | 1 Comment

      Seven Stages of the Content Lifecycle

      Reference: http://www.cmsreview.com/Stages/

        Posted in CMS | Leave a comment

        Manajemen Konten dan Arsitektur Informasi

        image taken from ixxus.com

        Seseorang atau sebuah organisasi yang tenggelam dalam lautan informasi yang tidak tersusun dengan baik tidak akan mampu mengambil manfaat dari informasi yang ada atau bertindak berdasarkan informasi yang tersedia. Sebuah informasi menjadi tidak bernilai jika kita tidak mampu menemukannya atau jika kita tidak mampu menggunakannya.

        Untuk memecahkan masalah ini, banyak perusahaan atau individu yang mengambil jalan pintas dengan membeli atau menerapkan sebuah teknologi, baik dalam bentuk perangkat keras maupun perangkat lunak. Hal ini terjadi karena sebagian besar dari kita berasumsi bahwa informasi adalah bagian dari teknologi. Dalam bidang manajemen konten pun kita sering dicekoki oleh orang-orang yang berkecimpung di bidang teknologi informasi bahwa solusinya terletak pada perangkat lunak tertentu. kode XML atau format formulir tertentu yang tinggal diisi agar konten bisa dimutakhirkan secara otomatis dalam jaringan.

        Betulkah sesederhana itu? Banyak dari kita yang tidak mampu memisahkan atau membedakan teknologi dengan solusi. Perangkat lunak, format formulir ataupun kode XML bukanlah faktor yang menentukan berjalannya manajemen konten yang baik.

        Untuk mengimplementasikan sistem manajemen konten yang baik kita tidak boleh menelaahnya hanya dari segi proses bisnis dan teknologi. Kita harus mampu memahami bagaimana sebuah organisasi berinteraksi dengan dan memanfaatkan konten yang ada; mengenali jenis konten yang akan dikumpulkan dan digunakan.

        Pengguna Konten

        Siapakah yang akan menulis konten dan mempublikasikannya? Siapa yang akan mengumpulkan informasi dan mengolahnya sebelum disajikan?  Perangkat apa yang akan digunakan untuk menulis konten? Bagaimana konten itu ditulis: apakah oleh seorang copywriter, berdasarkan masukan beberapa orang lewat email atau merupakan karya terjemahan?

        Bagaimanakah konten itu disusun? Apakah penulisnya mengerti tentang arsitektur informasi: mulai dari bagaimana mengkategorisasikan informasi hingga pemahaman terhadap penggunaan interface?

        Siapakah yang akan memanfaatkan konten tersebut? Bagaimana konten tersebut akan dimanfaatkan? Apakah sekedar dibaca, disimpan dalam bentu pdf ataukah dicetak? Berapa sering dan pada saat apa konten itu akan dimanfaatkan?

        Pengelolaan Konten

        Data seperti apakah yang memerlukan CMS (Content Management Systems)? CMS umumnya tidak mampu menangani setiap jenis data secara efektif, itu sebabnya kita harus menentukan data yang menjadi prioritas dan arus perjalanannya.

        Misalnya, dari mana konten itu berasal. Apakah diciptakan secara internal, apakah merupakan masukan dari ‘provider’ lain; apakah ditulis oleh penulis lepas? Lalu format apa yang digunakan untuk menulis konten tersebut? apakah dalam bentuk word, pdf, flash atau yang lainnya. Format sebuah konten akan mempengaruhi implementasi sistem pencarian atau taksonomi.

        Pertanyaan berikunya adalah bagaiman konten itu akan dikelola? Apakah perlu dimutakhirkan secara berkala? Bagaimana penyajiannya? Disinilah bagian kreatif dan pemasaran ikut ambil bagian. Karena CMS tidak akan mampu mengelola setiap jenis informasi yang ada, tentukanlah konten yang paling menjadi prioritas agar dapat ditentukan sistem yang tepat guna pengelolaan yang cepat dan tanpa hambatan.

        Kesimpulan

        Pemahaman terhadap siklus konten adalah ujung tombak dari keberhasilan suatu CMS (Content Management Systems). Mulai dari bagaimana konten itu dikumpulkan hingga bagaimana akhirnya konten itu dapat dimanfaatkan oleh pengguna terakhir.

          Posted in Arsitektur Informasi | Tagged , , , , | Leave a comment

          Media Sosial Untuk Bisnis, Bagaimana Memulainya?

          Media sosial bukanlah hal yang baru. Pada awal-awal era internet sudah ada yang namanya chat, forum, dan message boards. Kini ada blog, jejaring sosial seperti Facebook atau Friendster, situs-situs tempat berbagi foto dan video seperti YouTube dan Flickr, bahkan RSS (really simple syndication) – yaitu satu sistem sindikasi yang memungkinkan Anda untuk mendapatkan pemutakhiran atau artikel terbaru dari situs-situs favorit pilihan Anda secara otomatis.

          Kini kita bicara atau berkomunikasi satu sama lain lewat dinding Facebook dan berceloteh tentang segala kegiatan kita lewat Twitter. Peranan situs tidak lagi sehebat dulu karena mesin pencari macam Google lebih suka blog yang ditandai dengan baik (well-tagged blog) dari pada URL sebuah situs.

          Dulu, kegiatan media sosial sama sekali tidak dilirik oleh dunia usaha. Namun sejak perusahaan komputer DELL berhasil mengintegrasikan media sosial ke dalam kegiatan komunikasi pemasarannya, peranan media sosial meningkat menjadi perangkat pemasaran utama dalam bisnis. Setiap organisasi atau perusahaan yang banyak berurusan dengan publik menyadari pergeseran paradigma yang mengharuskan mereka untuk mampu berkomunikasi dengan konsumen dalam jaringan setiap saat.

          Menggunakan media sosial untuk bisnis memang susah-susah gampang. Bagaimana memulainya?

          Dekatilah Konsumen dan Dengarkanlah

          Konsumen pada jaman ini senang membaca dan mendengar pendapat dari konsumen lain atau rekan-rekannya tentang produk dan jasa yang ditawarkan. Jangan memutus pembicaraan yang terjadi di media sosial dengan pendapat searah dari perusahaan. Biarkanlah pembicaraan berkembang secara alami karena perusahaan Anda harus mampu menghargai dan mempercayai setiap pendapat, kritik dan saran yang sengaja dilontarkan agar didengar oleh Anda. Karena umumnya pendapat-pendapat itu adalah suara hati konsumen yang sebenarnya.

          Reaksi yang Bijaksana

          Kekecewaan konsumen yang dilontarkan lewat media sosial dapat memancing emosi, namun jika reaksi Anda tidak bijaksana maka tindakan Anda dapat menjadi boomerang yang akan menghancurkan reputasi perusahaan dan pada gilirannya menurunkan penjualan.

          Pilih Orang yang Tepat

          Komunikasi di media sosial tidak boleh terputus dan harus mampu menjawab setiap lontaran pertanyaan. Pilihlah dan tugaskanlah orang yang juga menyukai media sosial dan senang berkomunikasi dengan konsumen. Orang ini pun harus memahami setiap informasi yang berkaitan dengan produk dan jasa peusahaan Anda.

          Pilih Media Sosial yang Tepat

          Menggunakan media sosial hampir tanpa biaya kecuali ‘waktu yang digunakan’ untuk menata dan mengelola komunikasi sehingga seringkali kita terbawa dan masuk ke dalam setiap media sosial yang ada. Pilihlah media sosial dimana target pasar Anda berada, Anda tidak perlu mengikuti semuanya. Konsumen Anda adalah sekutu Anda, hargailah setiap percakapan yang Anda bina dengan konsumen Anda.

          Referensi:
          http://moblogsmoproblems.blogspot.com/2007/10/dell-social-media-rags-to-riches-story.html

            Posted in Media Sosial | Tagged , , , , , , | Leave a comment

            Arsitektur Informasi dan Media Sosial

            Tantangan paling besar yang dihadapi oleh komunitas sosial dalam jaringan adalah bagaimana mengajak orang lain untuk berpartisipasi. Partisipasi menuntut keseimbangan antara menyediakan konten dan menggunakan/memanfaatkan konten. Sebuah keseimbangan timbal balik yang tidak mudah diciptakan begitu saja karena manusia pada dasarnya lebih suka memantau dan belajar dari pantauan tanpa harus berpartisipasi. Padahal proses penyediaan konten yang relevan dan bermanfaat bagi pengguna memakan waktu dan kerja keras. Jika jumlah orang yang menggunakan informasi  lebih banyak dari jumlah orang yang memproduksi informasi berarti komunitas sosial dalam jaringan menjadi gagal.

            Informasi dapat disusun dengan lebih dari satu cara. Jika kita ingin menyentuh media sosial sebagai salah satu jalur komunikasi informasi disamping situs maka yang paling penting adalah bagaimana kita menentukan jenis informasi apa yang harus disajikan, bagaimana bentuk penyajiannya sebelum kita menyusunnya dalam satu struktur arsitektur informasi yang terpadu sejalan dengan konsep pengembangan situs.

            Media sosial menuntut bentuk komunikasi yang tidak terputus. Informasi terkini yang berkesinambungan, saran yang terumpan balik, dan pertanyaan-pertanyaan yang dijawab menjadi ujung tombak terciptanya hubungan antara konsumen dan perusahaan atau organisasi.

              Posted in Informasi, Media Sosial | Tagged , | Leave a comment

              Konsep Pendidikan di Era Teknologi Informasi dan Komunikasi

              Jika kita mendengar kata ‘pendidikan’ maka kita langsung berasosiasi dengan sistem pendidikan formal atau sekolah. Sebuah konsep yang lebih menekankan sistem pengajaran daripada belajar, ‘hasil’ daripada ‘proses belajar’, ’pengadaan’ (supply) daripada ‘permintaaan’ (demand). Kata ‘belajar’ sendiri memiliki konotasi bercampurnya berbagai informasi yang diulang ulang dan membosankan. Mental sekolahan yang tanpa disadari membatasi visi dan ruang lingkup sistem pendidikan.

              Di era teknologi informasi dan komunikasi, informasi tidak lagi hanya datang dari sekolah. Setiap saat kita, temasuk anak-anak kita, dihujani informasi mulai dari email, internet, milis hingga media sosial seperti Facebook dan Twitter. Teknologi informasi dan komunikasi kini berada di poros informasi dan komunikasi menggantikan institusi tradisional seperti keluarga, komunitas, sistem pendidikan, media komunikasi masa, perpustakaan dan tempat kerja. Masyarakat kita sudah menjadi masyarakat informasi.

              Apakah dengan demikian artinya generasi anak-anak kita menjadi lebih pandai dari kita dengan jumlah dan kecepatan tersedianya informasi yang tidak terbatas? Belum tentu, karena informasi yang terlalu banyak justru menurunkan tingkat perhatian kita kepada hal-hal yang lebih rinci. Membuat kita bingung informasi yang mana yang selayaknya kita serap. Bayangkan hal ini terjadi pada anak-anak kita.

              Menghadapi hal ini sistem pendidikan haruslah sebuah sistem yang sesuai dengan kondisi masyarakat informasi. Materi pengajaran harus dipilah, dipilih, dirancang dan dihidangkan sedemikian rupa agar mampu mengajarkan anak-anak bagaimana mencari dan menggunakan informasi dan pengetahuan secara selektif dan kritis; mengidentifikasikan, memproduksi dan menyebarkan informasi dan pengetahuan yang bermanfaat; mengembangkan cara berpikir yang mandiri dan kompleks; berpartisipasi aktif dalam menerapkan informasi dan pengetahuan yang diketahuinya di lingkungan kehidupannya baik formal maupun non formal; dan selalu menikmati dan menyukai belajar dari lingkungannya.

              Sistem pendidikan tidak lagi harus kaku dan searah tetapi harus menarik, menyenangkan, bermanfaat dan relevan dengan kehidupan sehari-hari dan masyarakat. Di era dimana usia mulai belajar semakin lama semakin dini maka Teknologi Informasi dan Komunikasi harus dimanfaatkan untuk memadukan pendidikan, informasi dan hiburan agar anak-anak suka belajar tanpa harus kehilangan masa kecil mereka.

                Posted in Informasi, Pendidikan | Tagged , , , , , | 2 Comments

                Arsitektur Informasi: Perpanjangan Desain Web

                Seorang desainer web selayaknya memahami teknik teknik arsitektur informasi karena arsitektur informasi adalah perpanjangan dari desain web. Seorang desainer web yang mengerti arsitektur informasi dan mengaplikasikannya ke dalam konsep desain web yang dikembangkannya akan menghasilkan situs web yang tidak saja enak dilihat tapi juga teratur rapih, konsisten dan mudah dinavigasi.

                Teknik-teknik arsitektur informasi yang berkaitan dengan pengembangan desain situs web adalah navigasi, tata letak dan kode.

                Navigasi

                Pengelompokan halaman ke dalam satu kategori tertentu tidak dapat diseragamkan dan diaplikasikan di setiap situs. Dua situs yang berbeda namun berisi informasi yang sama pun belum tentu memiliki pengelompokkan kategori yang sama jika masing-masing situs memiliki target pengguna yang berbeda,

                Sebelum melakukan pengelompokkan berdasarkan kategori, pastikanlah dulu informasi apa saja yang akan ditampilkan di dalam situs. Tahap berikutnya adalah menentukan siapa yang akan Anda sasar sebagai pengguna situs Anda. Anda harus mampu memahami pola pikir pengguna situs yang menjadi target Anda agar dapat mengelompokkan informasi yang akan Anda sajikan. Jika Anda tidak dapat membayangkannya ada baiknya Anda mengadakan diskusi kelompok dan meminta mereka mengelompokkan jenis-jenis informasi tersebut.

                Berdasarkan masukan mereka Anda akan lebih mudah menyusun skema klasifikasi yang hirarkis. Dalam arsitektur informasi ini disebut taksonomi. Taksonomi inilah yang akan mengarahkan desiner web menyusun navigasi dan peta situs.

                Tata Letak

                Tata letak atau layout adalah salah satu aspek penting dalam desain situs. Banyak pakar desainer situs yang menempatkan tata letak sebagai prioritas utama dalam mengembangkan situs. Hal ini tidak dapat lagi diterapkan jika Anda harus mendesain situs yang multi nasional dengan berbagai target pengguna yang berbeda. Seorang desainer web tidak bisa hanya mengembangkan tata letak halaman. Diperlukan satu wireframe yang terpadu.

                Wireframe menjelaskan lokasi konten, foto/gambar, navigasi dan fungsi-fungsi yang dibutuhkan di dalam situs. Fokusnya tidak lagi desain visual tetapi hubungan antara informasi, konten dan kelompok konten. Wireframe yang jelas akan memudahkan desainer web merancang tata letak setiap halaman dengan konsisten.

                Kode

                Seorang desainer web yang  mengerti standar HTML dan CSS akan menyadari pentingnya HTML yang terstruktur secara semantik dan hirarkis. Misalnya penyusunan konten yang masuk akal dibaca dari atas ke bawah dengan definisi h1, h2, h3 dan seterusnya yang teratur.

                  Posted in Informasi | Tagged , , , | 1 Comment

                  Situs yang Bagus, Apa Kriterianya?

                  Situs perusahaan kini semakin lazim dimiliki setiap perusahaan – apalagi perusahaan berskala besar – seperti layaknya sebuah kartu nama. Membuat situs itu gampang-gampang susah. Gampang, karena kini banyak desainer situs lepasan yang dengan senang hati dapat membantu Anda. Namun, dalam prosesnya bisa menjadi susah jika situs Anda tidak dapat memenuhi kebutuhan pengguna. Lalu apa kriteria situs yang bagus dan baik?

                  Apakah Anda memerlukan situs?

                  Beberapa usaha kecil dan menengah memanfaatkan situs hanya sebagai sarana penyediaan informasi produk atau jasa yang ditawarkan kepada konsumen dan calon konsumen mereka. Namun beberapa perusahaan lain justru menggunakan situs untuk sekaligus juga menjual produk/jasa dalam jaringan (secara online).

                  Sebelum Anda memutuskan untuk membuat situs, pikirkanlah sejak awal apa tujuan jangka pendek dan jangka panjang Anda, karena situs yang baik harus mampu memenuhi tujuan Anda dan berkembang sejalan dengan perkembangan perusahaan Anda.

                  Kemudahan Navigasi

                  Dalam proses desain, jangan mudah tergoda pada contoh-contoh situs yang indah, bergerak-gerak dan memakai musik misalnya. Kunci utama sebuah desain adalah mudah, fungsional dan konsisten bagi pengguna. Tidak ada gunanya memasukkan berbagai fungsi ke dalam situs Anda jika akhirnya justru membingugkan pengguna.

                  Situs yang didesain dengan baik akan tampak mudah di mata pengguna ketika mereka harus mencari informasi yang dibutuhkan. Konsistensi desain, bahasa dan elemen di setiap halaman sangatlah penting agar pengguna tidak merasa tersesat ketika harus berpindah halaman.

                  Situs adalah ruang tamu perusahaan Anda atau perpanjangan tangan bisnis Anda yang dapat mempengaruhi kesan pertama calon konsumen Anda. Jadi selayaknya sebuah situs harus mampu memberikan kehangatan namun berkesan profesional.

                  Mengembangkan Konten

                  Menulis konten untuk sebuah situs adalah suatu seni tersendiri karena mayoritas pengunjung situs tidak membaca, tapi hanya memindai konten dan memilih konten yang relevan dengan dirinya. Pengunjung situs umumnya ingin serba cepat dan instan. Mereka tidak suka membuang-buang waktu membaca hal-hal yang tidak ada hubungannya. Jika sebuah situs memiliki sistem navigasi yang buruk maka besar kemungkinan situs tersebut tidak akan dikunjungi lagi.

                  Jadi isi konten sebuah situs harus singkat, memikat, langsung pada tujuan, relevan dengan pembaca namun tetap sejalan dengan tujuan perusahaan. Gunakanlah gaya bahasa dan terminologi yang sama dengan sasaran pengguna situs Anda. Tidak gunanya menggunakan bahasa Inggris jika pengguna situs Anda mayoritas lebih suka berbahasa Indonesia.

                  Pengelolaan Konten

                  Sebagus apapun isi konten, situs Anda harus dimutakhirkan secara berkala karena bergesernya tren pasar, peluncuran produk baru atau perubahan perekonomian. Itu sebabnya penting bagi Anda untuk memiliki karyawan yang bertugas mengelola dan memutakhirkan konten setiap saat.

                  Ada 2 jenis situs, yaitu situs statis dan situs dinamis. Situs statis lebih murah biayanya namun jika Anda harus memutakhirkan kontennya Anda harus menghubungi lagi pengembang situs Anda untuk melakukan pemutakhiran yang Anda butuhkan. Jika konten Anda memerlukan pemutakhiran berkala maka situs dinamis adalah pilihan yang lebih tepat. Dengan sistem ini maka Manajer Konten Anda dapat melakukan pemutakhiran konten sendiri (secara inhouse). Sedikit lebih mahal pada awal pembuatannya namun dalam jangka panjang sebuah situs yang dinamis dapat difungsikan juga untuk membangun hubungan baik antara perusahaan Anda dan konsumen Anda.

                  Search Engine Optimization

                  Ada berjuta-juta situs bertaburan di dunia maya. Jaman dulu, salah satu keberadaan sebuah perusahaan ditentukan oleh posisinya di buku kuning Yellow Pages. Kini, posisi sebuah situs sangat penting agar selalu berada di 10 hasil pencarian pertama.  Hal ini bisa dicapai dengan SEO atau Search Engine Optimization,  suatu teknik yang dapat membuat tangan-tangan mesin pencari seperti Google, Yahoo dan Bing menemukan situs Anda.

                  Search Engine Optimization harus menyatu ke dalam halaman-halaman situs Anda, dan hal ini sudah harus dibicarakan dengan pengembang dan desainer situs Anda sejak awal ketika Anda memutuskan untuk membuat situs.

                    Posted in Situs | Tagged , , | Leave a comment

                    Ciri-ciri Perusahaan Anda Tidak Siap Masuk ke Media Sosial

                    Fenomena keberhasilan merek-merek ternama seperti Starbucks, IBM, Dell dan Ford di media sosial banyak mendorong perusahaan-perusahaan lain untuk mengikuti jejak mereka. Media sosial kini menjadi media favorit banyak perusahaan untuk memasarkan produk, meningkatkan citra perusahaan dan berkomunikasi dengan pelanggan.

                    Kegiatan di media sosial masih dianggap sesuatu yang dapat dilakukan sambil lalu. Apalagi boleh dibilang hampir tidak ada biaya sama sekali. Betulkah demikian?

                    Ciri-ciri perusahaan Anda tidak siap untuk terjun ke media sosial adalah:

                    Karyawan yang ditugaskan khusus

                    Membuat halaman Facebook atas nama perusahaan atau produk Anda sangat mudah. Menarik peminat atau anggota di kalangan teman-teman juga tidak sulit. Karena umumnya merekaakan bergabung karena mengenal Anda sebagai teman atau hanya berdasarkan rasa ‘sopan santun’.

                    Lalu bagaimana dengan anggota yang bukan teman Anda. Orang-orang yang memang konsumen atau calon konsumen Anda? Jika Anda ingin menjalin hubungan dengan konsumen atau anggota kelompok atau halaman Anda maka Anda harus memiliki karyawan khusus yang menangani akun ini. Jika tulisan dan komentar di dinding halaman Facebook tidak pernah dijawab atau ditindak lanjuti maka anggota halaman Anda tidak lagi tertarik untuk berkomunikasi dengan merek dan perusahaan Anda. Mungkin mereka tetap menjadi anggota tapi tidak akan ada interaksi lagi. Apapun yang Anda sampaikan lewat halaman facebook tidak lagi menarik.

                    Betulkah media sosial tidak memiliki biaya? Karyawan atau petugas yang menangani kegiatan media sosial tentunya harus digaji. Karena tugas mereka sama dengan seorang Public Relation di masa lampau. Biaya lainnya tentunya biaya internet setiap bulannya.

                    Sistem Informasi Perusahaan

                    Apakah sistem informasi di perusahaan Anda cukup akurat dan terintegrasi? Artinya jika timbul keluhan atau pertanyaan dari konsumen lewat media sosial, mampukah karyawan yang menanganinya menjawab dalam waktu yang relatif singkat? Jika sistem informasi di perusahaan Anda tidak terintegrasi maka karyawan tersebut belum tentu mengetahui apa yang terjadi di departemen lainnya sehingga akhirnya banyak pertanyaan yang tidak terjawab atau dijawab terlalu lama karena dia harus bertanya dulu ke departmen yang bersangkutan. Masyarakat media sosial adalah masyarakat ‘real time‘ artinya yang mereka perlukan adalah informasi mutakhir setiap saat.

                    Materi atau Konten

                    Jika Anda sudah memutuskan untuk terjun ke media sosial Anda harus senantiasa mampu memberikan informasi yang menarik dan bermanfaat bagi konsumen yang berkaitan dengan produk atau jasa Anda. Hal-hal yang bersifat tips sangat disukai.

                    Materi atau konten informasi yang tidak memiliki nilai akan membunuh citra produk dan perusahaan Anda. Karyawan yang menangani akun di media sosial harus selalu mampu membuat informasi yang biasa menjadi sesuatu yang menarik di mata konsumen.

                    Contoh:

                    1. Konten 1: “Produk kami baik untuk kesehatan Anda”.
                    2. Konten 2: “Zat besi berfungsi sebagai pengangkut oksigen dalam darah sehingga mampu meningkatkan metabolisme dan daya tahan tubuh”.

                    Konten 2 memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding konten 1. Tanpa harus menyebutkan bahwa produk Anda mengandung Zat Besi, konsumen sudah dapat berasumsi sendiri karena kallimat itu disuarakan oleh perusahaan Anda.

                    Kritik

                    Anda tidak boleh tersinggung dengan kritik atau pendapat negatif yang dilontarkan konsumen. Hal itu adalah ungkapan jujur mereka dan harus menjadi masukan untuk memperbaiki kondisi yang ada. Jika reaksi Anda positif terhadap hal-hal seperti ini maka Anda akan selalumenerima masukan yang jujur dari sasaran pasar Anda.

                      Posted in Media Sosial | Tagged , | Leave a comment